Salman Aditya

Welcome to my dreams!

ROKOK : Bukan Budaya Tapi Membudaya

Posted by on Feb 1, 2013

Oleh Salman Aditya

Ketika dunia dibuat terperanjat dan tertawa oleh guyonan – guyonan yang terlontaar dari mulut para komedian yang membicarakan dan mengomentari ajaibnya sebuah kejadian nyata seorang balita menghisap rokok seperti layaknya orang dewasa, Banyak balita lain di negeri ini menderita akibat asap rokok. Asap rokok yang dibuat oleh orang tuanya, sanak saudaranya ataupun asap rokok yang dibuat oleh dirinya sendiri. Bagaimana ini semua bisa terjadi.

Video seorang balita yang dengan sangat ahli menghisap rokok layaknya orang dewasa ini telah menjadi fenomena di seluruh dunia dan Indonesia turut dibawanya. Indonesia menjadi bahan ejekan dan hinaan oleh dunia internasional karena kurangnya perhatian orang tua apalagi pemerintah terhadap kesehatan masyarakat. Hal ini tentu membuat pemerintah mejadi panas telinga. Kabar terakhir menyatakan bahwa balita asal Sumatra dalam video itu sekarang sudah berhenti merokok setelah mendapatkan biaya rehabilitasi dari pemerintah Indonesia.

Satu balita sudah berhenti merokok, bagaimana dengan 239.000 anak dibawah usia sepuluh tahun yang berdasarkan laporan VOA Indonesia dalam artikelnya masih sangat aktif merokok. Apakah pemerintah perlu menunggu hingga video – video tentang balita yang merokok itu kembali bermunculan baru pemerintah peduli dan merasa perlu bertindak. Saya rasa pemerintah bukan keledai yang mengulangi kesalahan secara terus menerus tanpa menyadari dengan pasti kesalahan apa yang mereka buat.

Apakah saya harus bangga dengan “prestasi” Jumlah perokok di Indonesia yang menduduki peringkat ketiga di dunia. Sekarang sekitar lebih dari 60 juta penduduk Indonesia merokok. Kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok sendiri tiap tahun terus mengalami pertambahan secara pesat dan mencapai 429.948 orang atau 1.172 orang setiap harinya (Profil Tembakau Indonesia,2007). Pemerintah yang sering beranggapan bahwa rokok itu sangat positif terhadap pendapatan negara selalu menutup mata ketika melihat fakta nyata bahwa kerugian akibat rokok melebihi pendapatan cukai rokok. Tahun 2005 cukai rokok sebesar Rp 32,6 trilyun tetapi yang mencengangkan biaya pengobatan penyakit akibat rokok mencapai lebih dari Rp.167 trilyun atau 5 kali lipat dari cukai rokok itu sendiri.

Beberapa tahun lalu saya sempat berfikir bahwa dibalik ketidakpedulian pemerintah terhadap rokok dan akibatnya bagi kesehatan masyarakat adalah sebuah fakta bahwa pertumbuhan penduduk Negara Indonesia yang terus menerus meroket dan untuk menanggulangi pertumbuhan penduduk yang sulit dikendalikan ini pemerintah membiarkan sebagian besar penduduknya merokok hingga jatuh sakit, menderita dan tersiksa secara perlahan – lahan sampai akhirnya mati. Pengurangan penduduk akibat kematian yang disebabkan oleh rokok ini jumlahnya lebih banyak dari apa yang pernah anda bayangkan sebelumnya dan pemerintah merasa pertumbuhan penduduk pada akhinya dapat diatasi tanpa menggunakan anggaran yang membebani.

Pemerintah Indonesia sendiri akhir-akhir ini saya lihat sudah mulai peduli terhadap kesehatan masyarakatnya. Pembatasan iklan rokok di televisi merupakan salah satu kebijakan yang berhasil diciptakan oleh pemerintah saat ini walaupun tak bisa dipungkiri bahwa iklan rokok masih sangatlah tersebar luas dimana saja di seluruh penjuru Indonesia. Billboard di sepanjang jalan raya baik di kota besar ataupun pelosok kampung, Toko kelontong, Konser musik bahkan kompetisi olahraga.

Rokok sepertinya sudah seperti budaya yang tertanam dengan sangat dalam bagi sebagian besar orang di Indonesia. Sebagian besar mereka menganggap bahwa rokok itu keren, rokok itu menyenangkan dan rokok itu sexy dan macho. Mereka melihat anggapan ini dari film – film yang mereka tonton, dari tokoh yang mereka puja dan juga dari iklan – iklan yang bertebaran secara luas di Indonesia sehingga membuat rokok membudaya. Sebanyak lebih dari 240 miliar batang rokok atau sekitar 658 juta batang rokok per hari di konsumsi oleh masyarakat Indonesia (tempo interaktif,2009). Ini berarti tak kurang dari 330 Miliar rupiah “dibakar” oleh perokok Indonesia setiap harinya.

Padahal pada kenyataanya rokok itu tidak keren, apa yang keren dibalik ketidakberdayaan seorang pria paruh baya yang terduduk lemas dengan selang bantuan nafas di hidungnya dan dengan terengah – engah berusaha bernafas dan mencoba berfikir apa yang membuat dia dahulu merokok. Rokok itu tidak menyenangkan, tidak pernah terfikirkan bahwa mati setelah sebelumnya menderita secara perlahan-lahan adalah sesuatu yang menyenangkan. Rokok itu tidak sexy dan macho, Tidak ada yang sexy dibalik perempuan yang mengalami kerusakan janin dan tidak bisa mempunyai anak akibat rokok dan tidak ada yang macho dari seorang anak laki-laki yang mengabaikan kemungkinan besar akan mati dengan terlebih dahulu berpenyakit dan menderita secara perlahan-lahan.

Film – film dan tokoh – tokoh dari dunia barat yang menjadi referensi bahwa rokok itu keren adalah sebuah stereotype yang sudah ketinggalan zaman. Film – film itu kebanyakan adalah film yang dibuat pada dekada lalu dan tokoh – tokoh yang menjadi acuan mereka sekarang kebanyakan sudah tidak ada karena sudah mati akibat rokok.

Di dunia barat salah satunya di Negara Amerika Serikat budaya rokok sendiri sudah ditinggalkan. Dekade lalu Amerika Serikat sama dengan Indonesia, Rokok adalah budaya, rokok murah dan iklan rokok tersebar luas dimana-mana tetapi semua ini sudah berubah pada dekade ini. Harga rokok melambung tinggi karena kebijakan pajak dosa yang diterapkan sebagian besar negara bagian di Amerika Serikat. Pajak dosa ini adalah pajak yang diberlakukan untuk menaikkan harga rokok dan salah satunya diberlakukan di negara bagian New York. Harga rokok di New York sekarang adalah seratus ribu rupiah ke atas untuk setiap bungkus rokoknya.

Rokok di Amerika dewasa ini juga sudah bukan sesuatu yang membudaya karena kesadaran masyarakatnya akan kesehatan. Iklan rokok sudah dihentikan sama sekali dan perokok malu akan apa yang mereka lakukan dan pada akhirnya berhenti merokok. Para pelaku industri rokok kelas pekerja seperti pekerja pabrik rokok dan petani tembakau juga sudah tidak ingin menabung dosa yang lebih banyak lagi akibat turut serta meracuni dan membunuh masyarakat luas dengan produk yang mereka buat. Masih banyak pekerjaan yang lebih baik ketimbang bekerja memproduksi rokok.

Pemilik industri rokok di Amerika yang sekarang telah dibatasi keberadaanya sebagian ada yang sadar dan beralih ke cabang industri lain sedangkan sebagian yang lain memindahkan industri rokoknya ini ke negara miskin dan berkembang di belahan dunia lain termasuk Indonesia. Mereka tentu tidak peduli akibat dari rokok yang mereka produksi karena bagi mereka kepulan asap rokok dari pembeli yang pada akhirnya akan mati itu adalah uang yang tak ternilai jumlahnya.   

Sebagai seorang yang tidak merokok mungkin dengan munafiknya sisi jahat saya dapat berkata bahwa biarkan saja para perokok – perokok itu menghisap rokoknya jauh dari hadapan saya sehingga saya tidak akan terkena imbasnya dan banyak dari mereka akan mati secara perlahan-lahan. Kematian mereka ini akan sangat baik bagi pemerintah karena pertumbuhan penduduk akan dapat terkendali, lapangan pekerjaan akan terus terjaga dan pendapatan negara dari pajak rokok akan terus dianggap “bertambah”. Kematian mereka para perokok bagi saya sendiri bukan hal yang buruk karena dengan hilangnya mereka bukan tidak mungkin kepadatan, kesemerawutan dan kemacetan di jalan raya kota besar akan dapat teratasi dan jumlah kriminalitas akan berkurang.

Tetapi mungkin saja sisi baik dalam diri saya dapat berkata semoga para perokok aktif itu bisa berhenti merusak dirinya dan tentu saja orang – orang disekitarnya dan secara bersama- sama membangun kembali dunia tanpa asap rokok dan mungkin alkohol.

Submit a Comment